Cuap-cuap film The Alchemist of Happines
Cuap-cuap dari Film Kimia Kebahagiaan "The Alchemist of Happines" Al-Ghazali
Kimia kebahagian atau The
Alchemist of Happines, film yang berdurasi 1:19:11 ini menceritakan tentang perjalanan Al-Ghazali mengabdikan
hidupnya untuk menyelidiki rahasia keperiadaan dengan mengatasi keraguan
falsafinya serta mencapai pencerahan spiritual. Karena
puncak di dalam diri manusia tidak cukup aktualisasi diri yang didominasi nafsu
duniawi melainkan kesadaran diri mengenai Tuhan, keberadaan Tuhan dalam diri,
spiritualitas.
Ghazali diceritakan melalui
beberapa sudut pandang yaitu itu dari tokoh utamanya, beberapa pakar dan dari
seseorang yang ingin memahami jejak Ghazali, namun tidak disebutkan namanya.
Dia pergi ke Thus, Khurasan di Timur laut Iran dimana Al-Ghazali dilahirkan dan
banyak orang berpendapat Ghazali di makamkan di Thus atau pusara Al-Ghazali
yang biasa disebut penjara Harun, bahwasannya pembaringan terakhir Al-Ghazali
masih diliputi misteri. Mohammad Yahagi, Dosen Sastra Persia, Mashad Uiversity,
menjelaskan bahwa yang selama ini
disebut pusara Ghazali hanyalah tugu pusara saja, karena pemakaman
Ghazali masih misterius adanya. Tetapi ada makam yang lain yan diangap para
arkeolog sebagai tempat Al-Ghazali dimakamkan dan ini ada di luar dinding kota
Thus, agak jauh sedikit dari pusara Al-Ghazali.
Dan di jelaskan pula oleh T.J
Winter, Dosen Studi Islam, Cambridge University. Kota Thus, tempat Ghazali
dilahirkan yaitu tahun 1058. Kota ini dahulu menjadi pusat budaya Islam yang
besar dan luas, banyak ulama lahir di sana termasuk Ghazali. Dimasa Ghazali,
dunia Islam secara garis besar adalah peradaban terhebat yang pernah ada,
terbesar, paling makmur dan secar intelektuan dan arsitektual paling produktif.
Dan sebagi peradaban, kota Thus semakin menjadi kota yang mekar. Dan mungkin
tempat paling produktif di wilayah tengah islam saat itu ialah Khurasan.
Sekarang letak kota itu diperkirakan ada di Asia Tengah. Disana ada kota besar,
universitas besar yang berdebat sengit antar teolog (ahli kalam) dan pusat
studi hukum islam (fiqih). Di khurasan inilah prinsip tasawuf dijabarkan dan
dijadikan metode agar setiap muslim dapat kembali ke spritualitas asli di inti
keimanan. Dari seluruh bidang itu, Khurasan adalah jantung intelektualitas
islam dan gegap gempita kehidupan Muslim pada periode itu. Dan setelah itu pasukan Mongol datang dan
menghancur ratakan kota-kota besar di Khurasan. Menghapus hampir semua jejak
studi dan budayanya.
Dari awal film ini T.J Winter
telah menjelaskan siapa Al-Ghazali tersebut, ia memaparkan bahwa Al-Ghazali dipandang sebagai
satu dari 5 atau 6 tokoh pemikir yang
paling berpengaruh dalam sejarah. Dan pengaruh tersebut masih melekat
hingga kini. Al-Ghazali memperlihatkan bahwa di jantung keimanan dan amalan ada
makna spritual dan proses tobat, perbaikan dan transformasi. Itu sebabnya
beliau disebut ‘Bukti Islam’ (Hujjatul Islam).
Kimia kebahagiaan adalah salah
satu buku yang ditulis oleh Al-Ghazali, dan di angkat ceritanya menjadi versi
film. Nah, disini lumayan bingung untuk memaparkannya karena lebih sulit bagi
saya untuk memahami makna dari sebuah film ini, saya lebih memilih membaca
bukunya tapi, ada kendala dalam hal itu, tidak memiliki buku itu. Jadi saya
akan mencoba memaparkan makna yang tergambar dalam film ini. Dalam film ini
Al-Ghazali memaparkan makna batiniah ritual Islam dan metode menuju
pencerahannya. Film ini cukup membuka pikiran dan penafsiran penoton yang
dikarenakan bahasanya membutuhkan analisa pikiran, karena dalam film ini
terkandung makna filosofi. Film ini cocok buat kalian yang ingin mengetahui
mendalam tentang tujuan manusia hidup. Yang paling utama untuk mengetahui
tujuan dan kebenaran tersebut harus menemukan dasar kepastian. Nah, pada
dasarnya kodrat manusia dan keadaan dasarnya ialah kehampaan dan ketidak tahuan
dunia ghaib tuhan. Manusia mendapatkan pengetahuan melalui organ indrawi. Dan tiap
indra itu dianugerahkan agar kita memahami dunia. Yang pertama adalah indra
peraba. Dari indra ini kita dapat merasakan panas dan dingin, basah dan kering,
halus dan kasar. Selanjutnya, indra pengelihatan. Mata dapat menyerap warna dan
bentuk. Lalu, pendengaran yang membuat kita menyerap beragam bunyi. Kemudian, indra perasa, dan
seterusnya. Hingga semua indra hadir dan berkembang hingga kompleks lebih dari
sekedar indra. Point selanjutnya ialah, nalar yang memahami hal-hal abstrak,
mana yang mungkin dan mana yang mustahil. Melebihi nalar, ada tahapan lagi
yaitu diluar jangkauan nalar, dunia ghaib.
Al-Ghazali dan adiknya ditinggal
wafat oleh ayahnya saat umur 7 tahun. Sebelum kepergian ayahnya, ayah mereka memberikan
amanah kepada seorang wali shufi dan faqir untuk menjaga dan mengajari mereka. Hal yang menarik di sesi film ini
adalah adanya pemaparan bahwa seorang guru itu lebih penting daripada seorang
ayah biologis sebab seorang guru menuntun ke kehidupan abadi sedangkankan
seorang ayah sebab bagi kehidupan fana. Menurut paparan Shaykh Hamza Yusuf dari Zaitunah Institut mengatakan apa yang
Imam Al-Ghazali tekankan disini adalah gagasan “Keabadian Ilahiah” . gagasan
apa yang pasti datang tentang apa yang fana dan apa yang abadi. Gagasan ini untuk
mempelajari hal-hal yang dibutuhkan seseorang untuk perjalanan abadi. Sebab
yang diberikan ayah hanya kehidupan untuk perjalanan duniawi. Tapi tidak
memberianmu sarana untuk melintasi dunia, sebab itulah dibutuhkan seorang guru
yang akan memberimu sarana. Sarana yang dimaksud adalah pengetahuan. Untuk
mendapatkan pengetahuan kita perlu memperdalam atau mempelajari hingga dalam bukan semata hanya
di dapat secara cuma-cuma, tetapi harus juga mengetahui kebenaran dalam
pengetahuan tersebut. Cara untuk mengetahui kebenaran pengetahuan dengan cara
mencari sumber yang konkret untuk mengetahui kebenarannya.
Al-Ghazali adalah seorang anak
ajaib. Ia dapat menghafal teks standar di usuia dini, menghabiskan seluruh
peluang intelektual di kotanya. Saat remaja beliau menimba ilmu ke kota
propinsi tetangga, Nisyapur di kelas Al-Juwaini dimata banyak hukum dan teolog
termuka di masanya. Saat usia dini Ghazali sangat haus akan pemahaman dan
kebenaran sesungguhnya di segala hal. Beliau menyerap pengetahuan ini dengan
kerangka pemikiran ‘weltanschauung’ yang berbasis konsep tauhid atau
keesaan puncak tuhan dan bagimana keesaan itu mewujud melalui keragaman di dunia.
Berbicara hasrat yang mencapai akar dari masalah. Jadi, beliau telah menguasai,
menghafal, menghayati dan mengajarkan hal-hal tersebut diusia belia. Al-Ghazali
menyaksikan pergeseran tradisi, keyakinan otoritas agama yang sesungguhnya
terjadi, seperti ia menyaksikan anak-anak Kristen selalu dibesarkan menjadi
orang Kristen, anak-anak Yahudi menjadi Yahudi, dan Anak-anak muslim menjadi
muslim. Ia juga mengaitkannya kepada hadist Rasulullah SAW “Setiap anak
terlahir dalam fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Keristen atau
Majusi.”
Ghazali mengamati bahwa beberapa
faktor luar membentuk berbagai pengalaman wahyu dan pengalaman beragama. Hal
ini disebut kepribadian Ilahiah. Dan sudah menjadi sifat manusia untuk mencari
realitas kehidupan ini. Al-Ghazali berbicara tentang fitrah atau sifat alamiah
manusia yang merujuk pada hadist Rasululah SAW. Yang berisi tentang cinta Tuhan
dan ibadah kepada Tuhan, sebab itulah manusia diciptakan. Dan ibadah tertinggi
ialah mengenal tuhan (ma’rifah). Jika beribadah kepada Tuhan bagi manusia
berarti mengenal tuhan, maka itu meniscayakan Tuhan mengaruniai manusia fitrah
agar bisa mengenal Tuhan. Penganalan ini secara alamiah adalah pengenalan atas
Yang Dikenal dan yang mengenali. Manusia diciptakan dengan tujuan menyembah da
mengenal Tuhan.
Banyak pandangan-pandangan
Ghazali terkait keperiadaan manuasia, realitas puncak telah dipaparkan secara
mendetail, dari fitrah manusia, tujuan ia diciptakan, hingga terus naik kepada
realitas puncaknya yaitu kesadaran spiritual. Menceritakan pula sisi tragis
keperiadaan manusia salah satunya ialah saat manusia mengesampinngkan Tuhan
dari pencarian diri, hingga menuhankan hal lain sebagai gantinya. Sifat alamiah
manusia yang akan mencari ganti untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya.
Di sesi selanjutnya sangat
menarik, disini kita dapat mengambil pesan moral yaitu dengan mendamaikan iman
dan nalar agar tidak mengamalkan agama secara buta, maksudnya dalm mengamlkan
agama kita perlu pencarian dan pemahaman mendalam tentang fungsi agama agar
dapat mematahkan doktrin-doktrin ideologi radikal dan tidak akan lagi menjadi
salah penafsiran dalam fungsi agama yang sesungguhnya dan tetap memfokuskan
Tuhan paling utama di hati dan kehidupan kita.
Dalam menuntut pengetahuan
Al-Ghazali pergi untuk belajar kepada ahli ilmu kalam termuka pada masanya.
Sebagian pelajaran yang diperolehnya datang dari sumber tak terduga. Seperti di durasi 23:28 dalam perjalan Ghazali
bersama rekannya terjadi perampokan yang berdampak besar bagi Ghazali. Pasalnya
semua ilmu yang dicatat dan dikumpulkan dari guru-gurunya selama 2 tahun lenyap
dirampas oleh perampok. Padahal beliau berkata bahwa apa yang dibawanya tidak
berharga bagi perampok itu, dibalas oleh si perampok dengan perkataan, “Jadi
aku cukup merampasnya darimu untuk menghapus pengetahuanmu.” Terngiang
perkataan tersebut dalam benak Ghazali, dalam hatinya berkata bahwa perampok
itu benar. Dan menganggap semua itu adalah teguran dari Tuhan untuk
pelajarannya. Dari pengalaman tersebut Al-Ghazali menekadkan diri dan
pengetahuan yang didapat dari pencegetan itu. Al-Ghazali menghabiskan waktu
selama 3 tahun untuk menghafal pelajaran yang dia dapat dan meneruskan studinya
di bawah bimbingan Imam Al-Haramain Al-Juwaini. Nah dari disini kita dapat
memetik suatu pelajaran untuk kita, bahwasannya pengetahuan yang kita peroleh
harus di catatan dan jangan lupa untuk dihafalkan sebab pengetahuan itu sangat
penting untuk masa depan jika, dari hafalan itu jika catatan yang kita peroleh
setidaknya kita masih hafal dan paham atas apa pengetahuan yang kita dapat itu.
Seiring berjalannya waktu, Ghazali semakin dikenal kelihaiannya. Ia
mencapai puncak aktualisasi diri dengan baik. Kekayaan, status, kemapanan,
kepopuleran telah ia pegang. Namun, di suatu waktu timbul kekahwatiran pada
dirinya, ia seakan ingin menjadi apa adanya dan menyadari betapa palsu dirinya.
Ternyata apa yang telah teraktualisasikan tidak cukup menjawab tentang siapa
diri beliau yang sebenarnya. Kepribadian bersembunyi di balik sesuatu. Beliau
sedang menyadari akan hal itu, menyadari topeng yang ia tebar di dunia sebagai
si jenius, si anak ajaib, dan pendebat cemerlang. Dalam dakwah yang ia
sampaikan di masjid-masjid, ada seorang pemakna kehidupan Illahi, menjadi
pemicu transformasi beliau, ia berkata, “Wahai batu asah, sampai kapan kau
menajamkan besi, tapi kau sendiri tak kunjung tajam?”. Darinyalah beliau
akhirnya menyadari bahwa pengetahuan intelektual ini ternyata kejahilan yang
sangat samar. Beliau benar-benar berada pada titik sadar, “Aku
fana, aku akan mati. Sudahkah kupersiapkan perjalanan ini?” Krisis
keperiadaan, satu-satunya krisis yang bermakna bagi manusia. Keadaan manusia
yang semuanya fana. Krisis ini dimulai dengan krisis mental, intelektual, dan
bertahap pada realitas psikologis serta psikosomatik (kekalutan) bagi jiwa dan
raga. Hal itu menerpurukkan, merusak selera makan, waktu makan dan tidurnya,
pelan-pelan.
Kemudian Ghazali jatuh
sakit dan tidak ada obatnya karena penyakit menyerang kejiwaannya. Film ini
telah mencapai klimaks dari perjalanan Al-Ghazali mencari kepribadian. Beliau menyadari
kiprahnya tidak digerakan hasrat murni akan tuhan. Alih-alih didorongnya hasrat
akan jabatan dan pengeklaiman oleh masyarakat. Sehingga beliau memutuskan pergi
meninggalkan keluarga, jabatan dan kekayaan demi menemukan keyakinan dan
memutuskan duniawi untuk sementara. Dan demi menemukan hakikat dari realitas
ilahi. Saat memulai perjalanan batin dalam jiwa, Al-Ghazali mulai berkelana dan
mengasingkan diri dari pangeran dan ulama dimana ia membuat nama. Dalam
pengasingan diri beliau hidup tanpa nama hanya bertawakal kepada tuhan.
Kemudian ia memiliki niatan untuk berhijrah ke Makkah tetapi diam-diam ia
menuju suriah. Dia malakukan ini karena khawatir akan adanya kolega dan ulama
yang menghalanginya pergi untuk mencari Tuhan di alam liar.
Al-Ghazali pergi berkelana
di alam liar untuk mencari Tuhan. Tawakal bahwa tuhan akan mencakupi mereka.
Dan berusaha terus mengingatNya, merenungkan keindahan ciptaanNya. Berusaha
mengingat Tuhan dengan mengaji Al-qur’an, melalui shalat-shalat, berpuasa
dengan menemui sosok istimewa kyai dan wali yang hidup sementara di alam liar
dan menerima murid. Al_ghazali mengabdikan diri untuk menyucikan jiwa, memperbaiki
sifat dan membersihkan hati sambil mengingat Tuhan.menerapkan ajaran tasawuf
yang telah dipelajari. Beliau memulai kehidupan spritual Dia memahami
realitas dari pengalamannya langsung, baginya itu sains. Dia menulis
hal-hal yang ia temukan dalam perjalanannya agar yang lain dapat memahami.
Karena ia yakin, eksperimennya itu, jalannya pada masa itu tidak dapat diulang
melalui eksperimen. Beliau mengamalkan beragam amalan spiritual. Ia meyakini
kehidupan terbaik ialah meniti jalan Illahi. Cara yang paling masuk akal, sifat
yang paling murni.
Akhir film ini menjelaskan
serta menjabarkan pemikiran-pemikiran Ghazali tentang sari pati Islam,
pengamalan-pengamalan spritual dan keperiadaan fisik, hingga kesadaran dari
seseorang yang ingin mendalami kehidupan Ghazali tentang kebutuhan yang
sesungguhnya dalam hidup ini.
Nah gengs banyak sekali
pelajaran yang kita dapat dari film The Alchemist of Happines ini, salah satunya
cara kita untuk memahami pengetahuan dengan mendalam, yaitu dengan cara mencatat,
mengahafal dan memahami isi pengetahuan tersebut. Serta mepertanyakan
pengetahuan tersebut dengan keritis agar mengetahui kebenaran yang hakiki.
Buku dan film ini recomended banget gengs, banyak pelajaran yang dapat kita ambil. So, saya rasa cukup cuap-cuap kali ini, mohon maaf atas kesalahan pemaparan atau pemahaman yang berbeda gengs ;)
Komentar
Posting Komentar